desain piktogram olimpiade

bahasa visual universal yang melampaui kata-kata

desain piktogram olimpiade
I

Bayangkan kita sedang berada di bandara tersibuk di negara asing. Kita tidak mengerti satu pun huruf lokal yang tertulis di papan petunjuk. Ponsel kita mati. Lalu, tiba-tiba kita merasa sangat perlu pergi ke toilet. Dalam kepanikan itu, apa yang menyelamatkan kita? Jawabannya sederhana: sebuah gambar kecil bersiluet manusia. Tanpa teks, tanpa suara. Otak kita langsung paham. Kita selamat.

Pengalaman kecil yang sering kita anggap remeh ini sebenarnya adalah puncak dari sebuah rekayasa komunikasi visual yang luar biasa. Pernahkah teman-teman berpikir, bagaimana caranya membuat seluruh manusia di bumi—dengan ribuan bahasa dan budaya yang berbeda—bisa memahami satu pesan yang sama dalam waktu kurang dari sedetik?

Untuk menjawabnya, saya ingin mengajak kita mundur sejenak ke masa lalu. Tepatnya ke sebuah momen bersejarah di mana bahasa visual modern dilahirkan bukan dari kemewahan seni, melainkan dari kepanikan sebuah negara yang akan menjamu dunia.

II

Tahun 1964, Tokyo bersiap menjadi tuan rumah Olimpiade. Ini adalah momen pembuktian Jepang setelah hancur lebur di Perang Dunia II. Namun, ada satu masalah raksasa yang membuat panitia tidak bisa tidur. Ribuan atlet, ofisial, dan penonton dari lebih dari 90 negara akan datang. Masalahnya, hampir tidak ada dari mereka yang bisa membaca huruf kanji, hiragana, atau katakana.

Bahasa Inggris pada saat itu belum seuniversal sekarang. Menerjemahkan setiap papan petunjuk ke dalam puluhan bahasa adalah hal yang mustahil secara teknis dan estetika. Jika penonton tersesat, atau atlet telat masuk stadion karena bingung membaca arah, Olimpiade Tokyo akan berubah menjadi kekacauan massal.

Di sinilah sekelompok desainer muda Jepang yang dipimpin oleh Masaru Katsumi mengambil alih. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa menggunakan kata-kata. Mereka harus menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang melampaui batasan linguistik. Mereka harus meretas cara otak manusia memproses informasi.

III

Namun, membuat gambar yang dipahami semua orang ternyata jauh dari kata mudah. Mari kita lihat dari sudut pandang psikologi kognitif. Otak kita sangat payah dalam membaca teks dibandingkan melihat gambar. Saat kita membaca tulisan "Renang", otak harus mengenali huruf, merangkainya menjadi kata, memanggil memori tentang makna kata tersebut, baru kita paham. Ini memakan waktu dan membutuhkan apa yang disebut cognitive load atau beban kognitif yang tinggi.

Sebaliknya, saat mata kita menangkap sebuah gambar, korteks visual di otak kita memprosesnya hampir seketika. Masalahnya, gambar seperti apa? Jika kita menggambar perenang dengan detail—wajahnya, ototnya, percikan airnya—otak akan kebingungan memilah mana informasi yang penting. Otak kita akan sibuk memproses detail dan kehilangan makna utamanya.

Tantangan bagi Katsumi dan timnya adalah sebuah paradoks. Bagaimana cara kita membuang hampir semua detail dari bentuk manusia, tetapi tetap membuatnya terlihat persis seperti manusia yang sedang berolahraga? Bagaimana kita memastikan sosok tanpa wajah ini tidak bias budaya? Jika lengannya terlalu panjang, apakah masih terlihat seperti manusia? Jika sudut kakinya salah, apakah ia sedang berlari atau melompat?

IV

Inilah momen penemuan terbesarnya. Tim desainer Tokyo 1964 menyadari bahwa kunci dari komunikasi universal bukanlah pada seberapa mirip gambar tersebut dengan kenyataan, melainkan pada pemahaman Gestalt psychology. Prinsip Gestalt menyatakan bahwa otak manusia cenderung melihat keseluruhan bentuk terlebih dahulu sebelum melihat bagian-bagiannya.

Mereka mulai membedah anatomi manusia menjadi bentuk geometri paling dasar. Lingkaran untuk kepala. Garis lurus yang tebal untuk batang tubuh dan anggota gerak. Mereka membuang wajah, jari, pakaian, dan rambut. Mereka tidak menggambar "seseorang yang sedang berlari", melainkan mereka menggambar "konsep dari berlari itu sendiri".

Secara ilmiah, desain ini berhasil karena selaras dengan cara fusiform gyrus di otak kita bekerja dalam mengenali objek. Dengan menghilangkan detail yang tidak perlu, desainer menurunkan cognitive load hingga titik nol. Saat seorang penonton dari Senegal atau atlet dari Swedia melihat siluet garis memegang raket, otak mereka tidak perlu menerjemahkan apa pun. Maknanya langsung "meledak" di dalam kepala.

Itulah hari di mana piktogram olahraga modern lahir. Sebanyak 20 ikon diciptakan, dan desain itu sangat sukses hingga menjadi standar tak tertulis tidak hanya untuk setiap Olimpiade berikutnya, tetapi juga untuk rambu lalu lintas, stasiun kereta, dan bandara di seluruh dunia.

V

Kini, setiap kali Olimpiade digelar, desain piktogram selalu berevolusi. Dari desain geometris Munich 1972 yang kaku namun brilian, garis kuas kaligrafi di Beijing 2008, hingga piktogram yang diperagakan secara live action yang memukau di Tokyo 2020. Semuanya tetap berakar pada satu misi yang sama: menyatukan kita.

Ketika kita merenungkan hal ini, rasanya ada sesuatu yang sangat puitis dan menghangatkan hati. Di dunia yang sering kali terasa terpecah belah oleh perbedaan opini, politik, dan bahasa, piktogram hadir sebagai pengingat diam-diam tentang kesamaan kita.

Di balik tulang tengkorak kita, tidak peduli dari benua mana kita berasal, jaringan saraf kita bereaksi terhadap hal yang sama. Sebuah lingkaran kecil dan beberapa garis patah sudah cukup untuk membuat kita tersenyum dan sepakat, "Ah, itu orang sedang bersepeda."

Piktogram lebih dari sekadar desain grafis yang cerdas. Ia adalah monumen kecil tentang empati manusia. Sebuah bukti nyata bahwa ketika kata-kata gagal menyatukan kita, kita selalu bisa menemukan cara lain untuk saling mengerti. Dan terkadang, cara itu sesederhana menggambar orang-orangan lidi.